Pengembangan Pariwisata Jangan Menggusur Akar Budaya Lokal

0
229

JAKARTA – Sektor pariwisata dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi covid-19 dan menjadi pintu gerbang kebangkitan UMKM nasional.

Namun pariwisata yang dikembangkan harus memberikan manfaat sebesarnya buat masyarakat setempat dan memperhatikan kearifan lokal. “Pariwisata jangan mencabut akar budaya masyarakat,”ungkap Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI, Guntur Subagja Mahardika, dalam webinae “Gen’s Z Responsibility to Encourage Local Culture for Benefit of Tourism in the Future” yang diselenggarakan Kelompok Studi Bahasa Asing (KSBA) Fakuktas Hukum Universitas Diponegoro, Sabtu, 22 Oktober 2022.

Sebaliknya, Guntur menekankan pariwisata harus menjadikan budaya dan kearifan lokal menjadi nilai tambah dan industri pariwisata. Budaya masyarakat ini akan menjadi keunggulan kompetitif pariwisata nasional.

Guntur mendorong industri pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Yaitu industri pariwisata yang respek terhadap masyarakat setempat, melindungi warisan budaya, melestarikan lingkungan, serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Guntur mengungkapkan kultur budaya masyarakat Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslik juga memberikan pasar besar bagi pariwisata halal (halal tourism). Pasar pawiwisa halal dunia sangat besar mencapai USD 189 miliar. “Indonesia punya market share 12 penduduk muslim dunia. Ini menjadi pasar besar untuk menyediakan pariwisata ramah muslim,”jelasnya.

Ia menegaskan, pariwisata halal bukan mensyariahkan destinasi. “Pariwisata halal adalah pariwisata ramah muslim (muslim friendly) dengan pelayanan prima (swrvicw of exellence), dan mengusung nilai-nilai etika (ethical values),”jelas Guntur.

Pariwisata akan menjadi pintu gerbang UMKM dan ekonomi kreatif lainnya. Diharapkan dapat melibatkan partisipasi generasi muda dan melahirkan lapangan kerja.

Generasi Z yang lahir di era digital dan terkoneksi dengan banyak budaya luar harus memahami dan mendalami budaya lokal dan budaya Nusantara yang beragam, yang bila dikemas menjadi produk ekonomi kreatif yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita harus belajar pada Korea Selatan bagaimana mereka mampu mengekspor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal yang ditampilkan dalam lagu, film, kuliner, dan lainnya,”papar Guntur yamg juga Pembina Insan Pariwisata Indonesia (IPI).

Indonesia mendapatkan bonus demografi yang didominasi generasi muda. Ini merupakan keunggulan Indonesia dibandingkan negara-negara maju yang didominasi penduduk tua. Tapi di sisi lain bila tidak dikelola dengan baik, kondisi ini akan menjadi beban.

Mengutip data Biro Pusat Statistik (BPS) penduduk Generasi Milenial dan Generasi Aplpa mencapai 64,69% dari total penduduk 270,2 juta jiwa. Sementara penduduk berusia produktif mencapai 85,57%.

“Usia produktif yang mendominasi berbanding lurua dengan penyediaan lapangan kerja. Apabila lapangan kerja yang tersedia tidak seimbamh, pengangguran meningkat tinggi,”jelas Guntur yang saat ini juga menjabat Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Guntur yang juga Ketua Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) mengajak generasi Z untuk mengembangkan sektor pertanian, peternakan, perikanan. Sektor ini melibatman banyak orang dan mampu mempercepat pengentasan kemiskinan. Untuk itu pembangunan ekonomi dilakukan di desa dengan mengoptimalkan potensi desa. “Dengan membangun desa akan terdistribusi ekonomi, sehingga kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang,”papar Guntur.

Ekonomi kreatif yang antara lain dimotori subsektor kuliner, fesyen dan kriya mampu menyerap 18 juta tenaga kerja. Sementara UMKM berskala mikro menyerap 107 juta tenaga kerja.

Di tangan Generasi Z, ekonomi kreatif dapat dikembangkan dengan mengoptimalkan teknologi digital dan sosial media. “Banyak platform yang dapat digunakan untuk mengembangkan ekonomk kreatif,”urainya.

Indonesia akan menjadi pemimpin pasar ekonomi digital di Asia Tenggara. Pada tahun 2025 diproyeksikan kapitalisasi pasar ekonomi digital Indonesia mencapai USF 133 miliar dolar atau sekitar Rp. 1.826 triliun.

Guntur mengajak generasi muda, generasi milenial dan generasi alpha untuk kreatif dan inovatif dalam pengembangan pariwisata, ekonomi kreatif, dan pengentasan kemiskinan.*

LEAVE A REPLY