Santri Dapat Menjadi Penggerak Ketahanan Pangan

0
190


JAKARTA – Santri dan pesantren memiliki peran besar dalam pembangunan nasional, sejak masa perjuangan, masa kemerdekaan, era pembangunan, hingga sekarang dan ke depan.

Dengan santri lebih dari 5 juta orang yang terbesar pada 34 ribuan pesantren di Nusantara, santri dan pesantren menjadi agen dan hub pembangunan nasional, baik dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

“Pesantren lahir mandiri, dipimpin kyai yang menjadi tokoh teladan di masyarakat, bersama para santri mampu menggerakan masyarakat untuk pembangunan bangsa, termasuk dalam ekonomi kerakyatan,”ungkap Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Guntur Subagja Mahardika, dalam Webinar bertajuk: “Kebangkitan Ekonomi Komunitas Santri dan Pesantren untuk Kebangkitan Ekonomi Indonesia” yang digelar Gerakan Aspirasi Masyarakat dan Pedagang (Gasmap) dan Komite Pedagang Pasar (KPP). Webinar dalam memperingati Hari Santri Nasional ini diikuti sejumlah pesantren secara online, Sabtu, 22 Oktober 2022.

Hadir sebagai narasumber lainnya, Pamrihadi Wiraryo (Direktur Utama PT Food Station Tjipinang), Azman Ridha (Pesantren Al-Hamidiyah Depok), dan Abdul Rosid Arsyad (Ketua Gasmap dan KPP).

Guntur mengajak santri dan pesantren berperan dalam membangunan ketahanan pangan nasional di tengah krisis global melanda dunia. Sebagaimana diingatkan Presiden Joko Widodo dunia sedang menghadapi krisis kesehatan, krisis pangan, krisis energi, dan krisis finansial.

Membangun pertanian, jelas Guntur dapat menggerakan 5 sektor ekonomi, yaitu ketahanan pangan, industri farmasi, industri kecantikan, industri pariwisata, dan energi terbarukan.

Pesantren memiliki peran strategis. Sebagaimana Undang Undang Nomor 18 Tahun 2019 Tentang Pesantren, mengamanahkan tugas pesantren sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan pembersayaan masyarakat. “Santri dan Pesan dapat menjadi motor pemberdayaan ekonomi dan pertanian,”papar Guntur yang juga Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani).

Dengan membangun pertanian juga akan menguatkan industri halal Indonesia, khususnya produk makan halal. Indonesia memiliki pangsa 12 persen dari populasi muslim dunia 1,9 miliar jiwa. “Ini merupakan captive market, kalo pasar nasional dikuasai produk halal nasional, ditambah 5 persen pasar global, Indonesia juara produk halal dunia,”urainya.

Eksportir dan produsen makanan halal (halal food) dunia, sebut Guntur, dikuasai oleh Brazil, India, Amerika Serikat, Rusia, dan China. “Negara muslim terbesar Indonesia adalah importir produk halal terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Ini harus kt balik menjadi produsen produk halal dunia,”tutur Guntur.


Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, jelas Guntur, memiliki refocusing tugas antara lain penguatan sektor UMKM serta pengembangan ekonomi syariah dan industri halal. Pada Hari Santri 2020, Wapres mencanangkan Gerakan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas. “Saat ini banyak pesantren yg mengembangkan unit usaha termasuk melalui koperasi pondok pesantren,”tutur Guntur.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Pamrihadi Wiraryo melihat potensi besar pesantren untuk menjadi produden pangan. Dengan jumlah pesantren dan santri yang besar dapat memberdayakan kemandirian pangan nasional. “Food Station siap bekerjasama dengan Pesantren,”ungkap Dirut BUMD DKI Jakarta tersebut.

Ia menjelaskan, Food Station mengembangkan pangan mulai dari hulu hingga hilir, serta program penugasan.

Saat ini Food Station memiliki Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang merupakan pasar beras terbesar di Asia Tenggara. Disamping itu, Food Station juga mengembangkan bisnis tata niaga beras dan bahan pokok.

Model bisnis yang dikembangkan melalui Non Direct Channel melalui modern trade(perdagangan modern) dan perdagangan umum (general trade) dan mengemvangab Direct Channel melalui e-commerce dan Web Store. Disamping itu juga melakukan pemasaran melalui komunitas, termasuk komunitas majelis taklim.

“Kami siap bekerjasama dengan pesantren dan kami latih dan dampingi cara pemasarannya”tutur Pamrihadi.*

LEAVE A REPLY