Ketahanan Pangan ASEAN di Tengah Krisis Global

0
281

Guntur S Mahardika
Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI)
Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) CSGS Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia

Isu pangan (food) menjadi salah satu agenda penting yang menjadi perhatian para pemimpin bangsa di Kawasan Asia Tenggara (ASEAN, Association of Southeast Asian Nations) dalam KTT ASEAN yang diselenggarakan di Jakarta beberapa waktu lalu.

ASEAN yang mayoritas penduduknya didominasi Indonesia ini menjadi wilayah strategis. Berada di sekitar garis khatulistiwa dengan iklim tropis yang mampu menghasilkan produksi pertanian berlimpah pada setiap musim. Kawasan ini juga menjadi paru-paru dunia dengan hamparan hutan yang berada di Kalimantan, Indonesia dan kawasan sekitarnya. Dan, secara geografis ASEAN sangat strategis di Kawasan Asia – Pasifik yang menghubungkan Asia Timur hingga Australasia di dekat laut Pasifik (Oceania).

Ditambah lagi, Kawasan Asia Tengga memiliki hamparan lautan yang luas yang menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat selain pertanian darat. Saat ini, air juga menjadi komoditas strategis karena penyusutan kandungan air tahan dan kebutuhan air dalam kehidupan yang cukup besar dalam produksi makanan dan kehidupan manusia.

Maka, Badan Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization, FAO) menjadi air sebagai tema peringatan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2023. “Water is Life, Water Is food. Leave No One Behind”. Air adalah kehidupan, air adalah makanan. Jangan tinggalkan sipapun. Food and Agriculture Organization (FAO) United Nation mencanangkan Hari Pangan Sedunia sejak 1979. Tujuannya, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk masa depan pangan, manusia, dan planet (bumi).

Tantangan negara-negara ASEAN saat ini adalah sebagaimana yang dialami hampir seluruh negara di muka bumi ini. Khususnya, tantangan pasca pandemic covid-19 yang berdampak pada krisis negara-negara di dunia. Tidak hanya krisis Kesehatan, tapi menjadi krisis multidimensi: Krisis pangan, krisis air, krisis energi, krisis keuangan, krisis sosial, dan krisis geopolitik. Situasi ini yang membuat beratnya upaya pemulihan (recovery) pasca pandemic covid-19.

Pandemi telah meluluhlantakkan tatanan ekonomi global. Produksi, tata niaga dan jalur logistik antar negara terganggu, bahkan sempat terhenti. Akibatnya, porak poranda suplai logistik menyebabkan banyak negara kesulitan pangan (dan bahan konsumsi pokok). Negara-negara produsen pangan memprioritaskan kepentingan pangan nasionalnya, Mereka memperkuat cadangan dalam negerinya, menghentikan ekspor. Sementara negara-negara yang ketergantungan pangannya pada negara lain memiliki masalah besar. Mereka terancam kesulitan pangan, bahkan kelaparan.

Global Report on Food Crisis (GRFC) Badan Pangan Dunia menemukan bahwa 258 juta orang di 58 negara dan wilayah menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih buruk pada tahun 2022. Jumlah ini naik dari193 juta orang tahun sebelumnya. Keparahan kerawanan pangan itu meningkat menjadi 22,7 persen. Kondisi ini berlanjut sampai 2023, sehingga ancaman kelaparan dan kemiskinan semakin luas.

Setidaknya ada tiga faktor utama yang sangat menekan banyak negara yang berujung pada peningkatan kemiskinan dan kelaparan. Pertama adalah economic shock (guncangan ekonomi) termasuk dampak pandemi covid-19 dan dampak perang Rusia-Ukraina mengguncang ekonomi global dan menekan negara-negara miskin. Kedua, conflict/insecurity (konflik/ketidakamanan) yang terjadi di sejumlah negara telah meingkatkan kemiskinan. Ketiga, weather/climate extremes (cuaca/iklim ekstrem) menjadi pendorong utama kerawanan pangan akut. Ekstrem ini termasuk kekeringan berkelanjutan di sejumlah negara.

Situasi ini juga tentu mempengaruhi kondisi Kawasan Asia Tenggara. Meski begitu, beruntung negara-negara di Kawasan ASEAN merupakan produsen pangan, bahkan sebagian mampu mengekspor pangannya. Indonesia, merupakan negara produsen beras terbesar ketiga di dunia setelah India dan China.

Meski mengalami penurunan produksi padi di Indonesia pasca pandemi covid-19, namun produksi padi nasional Indoensia masih tinggi. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia yang dipublikasi 16 Oktober 2023, luas panen padi tahun ini diperkirakan 10,20 juta hektar dengan produksi sekitar 53,63 juta ton gabah kering giling (GKG).

Areal luas panen ini mengalami penurunan 255,79 riibu hektar dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 10,45 juta hektar. Produksi padi tahun 2023 juga mengalami penurunan sebanyak 2,05 persen dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 54,75 juta ton. Begitu juga produksi beras yang pada tahun ini diperkirakan mencapsi 30,90 juta ton menurun 2,05 persen (645,09 ribu ton) dibandingkan produksi tahun sebelumnya sebesar 31,54 juta ton.

Bila merujuk data Global Food Security Index (GFSI) negara ASEAN yang paling kuat ketahanan pangannya adalah Singapura. Namun, tampaknya peringkat itu perlu dikoreksi, karena nyatanya Singapura di tengah pandemi dan pasca pandemic covid-19 justru menjadi negara yang paling rentan terhadap kecukupan pangan. Negara-negara eksportir pangan ke Singapura seperti India dan Brazil menghentikan suplainya karena mementingkan cadangan pangan nasionalnya masing-masing.

Indonesia, pada GFSI tahun 2022 berada pada level 60,2. Meski indeks ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun indeks tersebut masih di bawah rata-rata index ketahanan pangan global pada level 62,2 dan rata-rata ketahanan pangan Asia Pasifik pada level 63,4. Indonesia berada pada peringkat 63 dari 113 negara. Sementara negara-negara lain di Kawasan Asia Tenggara, relatif stabil tingkat ketahanan pangannya. Bahkan, Thailand, Vietnam, dan Kamboja sudah mengekspor berasnya ke negara tetangganya, termasuk Indonesia untuk cadangan pangan nasional.

Mengukur ketahanan pangan dilihat dari empat kategori yang menjadi dasar indeks. Pertama adalah ketersediaan pasokan pangan (availability); kedua, keterjangkauan harga pangan (affordability); ketiga, kualitas nutrisi (quality and safety); keempat, keberlanjutan dan adaptasi (sutainability and adaption).

Dulu sebelum pandemic covid-19, kebutuhan suplai pangan dapat dipenuhi melalui impor dari berbagai negara. Namun, dalam kondisi covid-19 yang memporakporandakan sektor produksi, distribusi, dan logistik antar negara mendorong banyak negara untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Tidak bisa lagi tergantung pada suplai pangan dari negeri lain, yang sewaktu-waktu dapat menghentikan pasokannya.

Di antara negara-negara ASEAN sebenarnya Indonesia seharusnya paling siap menghadapi tantangan krisis pangan saat ini dan ke depan. Negara yang berpenduduk 278 juta jiwa ini memiliki lahan yang subur dan laut luas, yang di atas lahannya tumbuh ribuan varietas pangan dan pertanian serta beragam ikan dan sumber daya maritim. Indonesia kaya akan keragaman hayati (bio diversity).

Indonesia negara yang memiliki anugerah kekayaan alam yang luar bisa. Keragaman hayati (bio diversity) Indonesia merupakan merupakan kekuatan besar bangsa ini bila dikelola dengan baik. Pembangunan Indonesia yang tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan, saatnya dievaluasi dan shifting pada kekuatan keragaman hayati yang dikelola berkelanjutan dengan pengembangan sains dan teknologi.

Negeri ini juga memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Saat di banyak negara terjadi kondisi kekurangan generasi mudanya, Indonesia memiliki bonus demografi dengan usia produktif yang tinggi dan mayoritas adalah generasi milenial serta generasi X. Di satu sisi ini merupakan kekuatan, namun apabila tidak dikelola dengan baik bonus demografi akan menjadi bom waktu, khususnya pengangguran yang akan meningkat.

Saat ini momentum bagi Indonesia melahirkan momentum kedua kebangkitan nasional. Saatnya mengoreksi kebijakan-kebijakan nasional yang tidak bertumpu pada peningkatkan kualitas hidup manusia dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Peran Indonesia tidak hanya dibutuhkan masyarakat Indonesia, tapi juga menjadi harapan negara-negara di Kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Australasia. Indonesia juga dapat memimpin kerjasama ketahanan pangan Kawasan ASEAN dan sekitarnya. Negeri ini sangat strategis, dengan sejumlah kekayaaan hayati, sumber daya alam, dan sumber daya manusianya.
Menyongsong Indonesia Emas 2045, Indonesia akan menjadi negara maju dan berpengaruh di dunia. Bangkit Indonesia !
***
TABEL
INDEKS KETAHANAN PANGAN PANGAN ASEAN

PERINGKAT NEGARA SKOR
1 Singapura 73,1
2 Malaysia 69,9
3 Vietnam 67,9
4 Indonesia 60,2
5 Thailand 60,1
6 Filipina 59,3
7 Myanmar 57,6
8 Kamboja 55,7
9 Laos 53,1
Sumber: GFSI, The Economist. www.economist.com

* Penulis, Guntur Subagja Mahardika Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) CSGS Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani).
* Artikel ini dibuat dalam buku “ASEAN Epicentrum Pertumbuhan Dunia”, 2023.

SHARE

LEAVE A REPLY